Sabtu, 16 Oktober 2010

resensi

SISI KELAM, SISI BURAM, SISI KELABU, DAN SISI TERANG NEGERI INI
Judul                : Republik Genthonesia
Penulis            : Mbah Dipo
Penerbit          : Pro You (kelompok penerbit Pro-U Media)
Tebal               : 254 halaman
Harga              : -

Buku ini berisi komentar-komentar penulis mengenai peristiwa yang  penulis alami dan rasakan mengenai masyarakat di sekitarnya. Awalnya buku ini adalah kumpulan tulisan dalam blog yang penulis kelola. Tulisan-tulisan yang tertuang dalam buku ini lebih berisi kritik social penulis mengenai keadaan negeri ini, Indonesia, dengan menitik beratkan permasalahan kepada keadaan masyarakatnya yang merupakan tolak ukur  kualitas suatu bangsa. Dalam  kata pengantar penulis memaparkan bahwa tulisan ini sebenarnya hanyalah satu sarana ventilasi yang meringankan kepenatan hati dan pikiran yang setiap hari dijejali dengan berita, wacana, tontonan, peristiwa dan bacaan yang menggelisahkan.
            Akan tetapi dari dari informasi  tersebut terjadi ambiguitas, apakah tujuan buku ini diterbitkan hanya untuk meringankan kepenatan hati penulis ataukah agar pembaca dapat mengambil pelajaran dari tulisan ini?, karena penulis tidak menyebutkan pernyataan kedua pada kata pengantarnya, kecuali pada cover belakang buku. Tetapi tulisan pada cover tersebut dicurigai bukan dari penulis, melainkan tambahan dari penerbit.
Meskipun demikian, tanpa disebutkan dengan lebih jelaspun pembaca bisa menganbil banyak manfaat dari buku ini. Kritik-kritik social dalam buku ini memberikan gambaran tentang keadaan masyarakat Indonesia pada masa sekarang, sehingga bisa menjadi bahan renungan dan muhasabah. Dari renungan dan muhasabah tersebut, pembaca bisa membuka pikiran tentang kenyataan yang menimpa bangsa ini sehingga   bisa ikut menyumbangkan jalan keluar atas permasalahan-permasalahan  tersebut.
            Penulis lebih banyak mengungkap sisi gelap kehidupan social masyarakat dibandingkan dengan ssisi terangnya. Hal ini mungkin karena memang yang penulis alami dan rasakan sebagian besar adalah sisi buruk dari keadaan social. Hal ini sesuai dengan tujuan penulis membuat tulisan ini yaitu untuk ‘membuang kepenatan hati dari peristiwa yang menggelisahkan’, artinya membuang hal-hal buruk yang telah penulis  alami dari pengamatan social dengan cara berbagi kepada pembaca.
Kelemahan buku ini terletak pada penggunaan bahasa jawa yang terlalu banyak sehingga menyulitkan pembaca unutuk menmahami buku secara utuh. Meskipun penulis menyertakan arti dari kata atau istilah berbahasa jawa tersebut pada bagian footer, hal tersebut masih menyulitkan pembaca karena pembaca harus terus mengalihkan mata dari atas ke bawah setiap menjumpai kata berbahasa jawa.
Secara umum buku ini layak dibaca sebagai bahan refleksi dan renungan terhadap bangsa Indonesia yang kian lama kian banyak saja masalah yang dihadapi.

TIADA YANG KITA PUNYA

Aku merasakan  sebuah getaran.  1 SMS masuk melalui ponselku.
“Ukhti,  afwan untuk saat ini pesanan belum bisa diambil, karena stok sudah habis,” bunyi SMS itu.
Kontan saja aku lemas. Marah. Kesal. Bagaimana tidak, jauh-jauh aku telah melakukan perjalanan, hasilnya akan sia-sia. Ingin rasanya kembali ke Bogor sana dan tak mau menjumpai pengirim SMS tadi. Tapi aku menyadari itu tindakan bodoh dan tidak akan menyelesaikan masalah. Aku melanjutkan perjalanan, dengan muka cemberut dan kusut. Kutemui dia.
“ Ukhti, sekali lagi afwan ya, di stokies udah gak ada persediaan buku. Sekarang masih menunggu pembayaran dari sales lain, karena masih banyak yang belum bayar. Jadi untuk membeli buku lagi uangnya masih kurang,,” ucap Teh Avi, pengirim SMS tadi.
Aku belum bisa terima hal ini. Apakah tidak bisa diusahakan untuk menyediakan buku itu untukku, sebagian saja?. Konsumen-konsumen yang memesan buku melaluiku telah melunasi pembayaran buku, jadi harusnya aku diutamakan.
“Teh, konsumen saya udah pada bayar, bener ga ada bukunya?” ucapku terbata. Air mata telah berkumpul menutupi kornea.
Gak ada teh,, “ jawabnya. Aku melihat bahwa Teh Avi juga menyesalkan kejadian ini.
Susah payah aku menahan tangis. Aku selalu begini jika menghadapi masalah sulit. Melampiaskan kekesalan dan kemarahan dengan menangis. Aku pun tak sanggup dan meminta izin untuk ke belakang.  Aku lalu menangis diam-diam.
***
Tidaklah kamu memperoleh kebaktian (kepada Alloh) sampai kamu menafkahkan apa yang kamu cinta. Dan apapun yang kamu infakkan,tentang hal itu sungguh Alloh Maha mengetahui.
Kata-kata itu menyentuhku sampai ke sanubari. Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 92 itu benar-benar menyadarkanku bahwa kemarin aku salah. Seharusnya aku tidak memasang wajah kesal kepada Teh Avi. Karena dia juga pasti lelah. Mengapa aku menyesalkan uangku yang telah melayang karena ongkos pulang-pergi Bogor-Cianjur dan mengeluhkan kelelahan karena perjalanan itu. Bukankah jika aku tak rela dan ikhlas atas semuanya, aku masih jauh dari pengabdian kepada-Nya. Perjuanganku ini belum seberapa jika dibandingkan dengan sahabat-sahabat Rosulullah dahulu. Perjuangan mereka telah sampai pada perjuangan di medan perang. Perjuanganku  baru membantu  sebuah yayasan sosial Islam dengan membantu menjual  buku tulis. bersama rekan-rekan satu misi.
***
70 pak buku tulis. Sebuah jumlah yang lumayan untuk penjualan pengalaman pertama. Aku bersyukur. Suka duka selama program akan menjadi kenangan manis yang tentu saja juga menjadi pengalaman berharga. Tak harus kusesali berapa banyaknya uang yang aku keluarkan untuk ini. Betapapun aku tak mendapat keuntungan sepeserpun dari penjualan ini. Karena harga yang telah ditetapkan oleh yayasan adalah harga yang aku jual ke konsumen. Kelak uang itu akan digunakan yayasan untuk membangun ummat.  Aku yakin, setiap rupiah yang aku keluarkan dan setiap peluh yang aku teteskan akan mendapat balasan dari yang Maha Membalas. Bukankah Allah berfirman, bahwasanya siapa yang beriman dan berjuang di jalan-Nya dengan harta dan jiwanya akan dibalas dengan syurga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai?. Karena sejatinya, harta dan jiwa kita hanyalah milik-Nya. Semua yang ada didunia hanyalah milik-Nya. Tiada yang kita punya. Tak ada satupun. Karena itu, mengapa kita harus enggan berjuang di jalan-Nya dengan milik-Nya, harta dan jiwa yang kita pinjam dari-Nya?.

BARIKADE WARNA

BARIKADE WARNA
Serpihan pelangi
Diantaranya
Seorang dengan batu hitam
Sebongkah di pergelangan tangannya
Memilih warna yang tiada
Oleh kelam hancur

Kuning menuju
Menyusupi batu yang memandangnya dengan sinis
Lalu ke tempat ia bermuara, ya
Melesat, terduduk

Biru menebarkan senyuman yang menggelikan
Terhenti melihat merahnya bola di hadapnya
Bola berpermukaan meluncur

Jingga, nila, ungu bergandengan tangan
“semoga kita bisa meleburnya”
Dalam sejuk dan dingin bergantian

Merah menyilaukan pandangan
Angkuh berjalan ke segala arah
Dan
Sang hitam tak mau menengadah
Dengan tenang,puith berdamai
Tak ia temukan apapun!
Selain batu yang tersenyum