Sabtu, 16 Oktober 2010

TIADA YANG KITA PUNYA

Aku merasakan  sebuah getaran.  1 SMS masuk melalui ponselku.
“Ukhti,  afwan untuk saat ini pesanan belum bisa diambil, karena stok sudah habis,” bunyi SMS itu.
Kontan saja aku lemas. Marah. Kesal. Bagaimana tidak, jauh-jauh aku telah melakukan perjalanan, hasilnya akan sia-sia. Ingin rasanya kembali ke Bogor sana dan tak mau menjumpai pengirim SMS tadi. Tapi aku menyadari itu tindakan bodoh dan tidak akan menyelesaikan masalah. Aku melanjutkan perjalanan, dengan muka cemberut dan kusut. Kutemui dia.
“ Ukhti, sekali lagi afwan ya, di stokies udah gak ada persediaan buku. Sekarang masih menunggu pembayaran dari sales lain, karena masih banyak yang belum bayar. Jadi untuk membeli buku lagi uangnya masih kurang,,” ucap Teh Avi, pengirim SMS tadi.
Aku belum bisa terima hal ini. Apakah tidak bisa diusahakan untuk menyediakan buku itu untukku, sebagian saja?. Konsumen-konsumen yang memesan buku melaluiku telah melunasi pembayaran buku, jadi harusnya aku diutamakan.
“Teh, konsumen saya udah pada bayar, bener ga ada bukunya?” ucapku terbata. Air mata telah berkumpul menutupi kornea.
Gak ada teh,, “ jawabnya. Aku melihat bahwa Teh Avi juga menyesalkan kejadian ini.
Susah payah aku menahan tangis. Aku selalu begini jika menghadapi masalah sulit. Melampiaskan kekesalan dan kemarahan dengan menangis. Aku pun tak sanggup dan meminta izin untuk ke belakang.  Aku lalu menangis diam-diam.
***
Tidaklah kamu memperoleh kebaktian (kepada Alloh) sampai kamu menafkahkan apa yang kamu cinta. Dan apapun yang kamu infakkan,tentang hal itu sungguh Alloh Maha mengetahui.
Kata-kata itu menyentuhku sampai ke sanubari. Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 92 itu benar-benar menyadarkanku bahwa kemarin aku salah. Seharusnya aku tidak memasang wajah kesal kepada Teh Avi. Karena dia juga pasti lelah. Mengapa aku menyesalkan uangku yang telah melayang karena ongkos pulang-pergi Bogor-Cianjur dan mengeluhkan kelelahan karena perjalanan itu. Bukankah jika aku tak rela dan ikhlas atas semuanya, aku masih jauh dari pengabdian kepada-Nya. Perjuanganku ini belum seberapa jika dibandingkan dengan sahabat-sahabat Rosulullah dahulu. Perjuangan mereka telah sampai pada perjuangan di medan perang. Perjuanganku  baru membantu  sebuah yayasan sosial Islam dengan membantu menjual  buku tulis. bersama rekan-rekan satu misi.
***
70 pak buku tulis. Sebuah jumlah yang lumayan untuk penjualan pengalaman pertama. Aku bersyukur. Suka duka selama program akan menjadi kenangan manis yang tentu saja juga menjadi pengalaman berharga. Tak harus kusesali berapa banyaknya uang yang aku keluarkan untuk ini. Betapapun aku tak mendapat keuntungan sepeserpun dari penjualan ini. Karena harga yang telah ditetapkan oleh yayasan adalah harga yang aku jual ke konsumen. Kelak uang itu akan digunakan yayasan untuk membangun ummat.  Aku yakin, setiap rupiah yang aku keluarkan dan setiap peluh yang aku teteskan akan mendapat balasan dari yang Maha Membalas. Bukankah Allah berfirman, bahwasanya siapa yang beriman dan berjuang di jalan-Nya dengan harta dan jiwanya akan dibalas dengan syurga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai?. Karena sejatinya, harta dan jiwa kita hanyalah milik-Nya. Semua yang ada didunia hanyalah milik-Nya. Tiada yang kita punya. Tak ada satupun. Karena itu, mengapa kita harus enggan berjuang di jalan-Nya dengan milik-Nya, harta dan jiwa yang kita pinjam dari-Nya?.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar